Jumat, 05 Mei 2017



TAHARAH DALAM KEHIDUPAN
A.    Pendahuluan
            Kebersihan atau kesucian adalah salah satu kewajiban yang diperintahkan oleh agama islam dikenal dengan sebutan taharah.Taharah adalah menjauhi segala yang kotor dan cemar dan mendekati kebersihan dan kesucian dalam segala lapangan. Kebersihan tubuh adalah suatu syarat mutlak untuk memperoleh kesucian batin. Dalam ajaran islam soal kebersihan atau kesucian termasuk bagian ilmu dan amalan yang sangat penting terutama karena di antara ibadah ada yang mensyaratkannnya harus suci. Misalnya salat harus suci dari hadas dan suci dari najis.
            Taharah bukan saja “kebersihan dan kesucian” yang perlu untuk perbuatan mengahadap Tuhan, tetapi juga “pekerja’an membersihkan dan mensucikan” itu,   adalah salah satu dari ibadah yang lima. Sedangkan ibadahyang empat lagi ialah salat, zakat, puasa dan haji.
            Menurut pembagian yang lazim dalam kitab-kitab fikih,baik fikih klasik maupun fikih kontemporer selalu di mulai dengan bab ibadah yang lima itu dan senantiasa bab taharah itulah yang pertama di antara yang lima itu.
B.     Dasar HukumTaharah
            Begitu pentingnya taharah (diindonesiakan menjadi taharah) kaitannya dengan ibadah, maka sebelum membicarakan taharah lebih jauh perlu mengetahui dasar atau landasan hukum taharah itu sendiri.
            Para fuqaha’ (ahli fikih) tidak ada perbedaan pendapat bahwa taharah telah disyari’atkan dalam Islam. (EHI: 1996). Pendapat itu di dasarkan atau mengacu pada al-Quran dan as-Sunnah. Melalui al-Quran bisa dilihat dalam surat:
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْتَّوَابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang taubat dan menyukai orang – orang yang mensucikan diri” (Q.S. Al Baqarah Ayat 222)
·         Surah Al – Mudassir ayat 4 :
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
Artinya : Dan pakaianmu bersihkanlah”
·       At – Taubah ayat 108 :
وَاللهُ يُحِبُّ الْمُتَطَهْرِينَ

Artinya : “Dan Allah menyukai orang – orang yang bersih”.
·         Lalu dijelaskan oleh Hadits Rasulullah
اَلطَّهُوْرُ سَطْرُ الاِيْمَانِ
Artinya : “Kebersihan itu setengah Iman.
Disamping hadits diatas ada hadits lain yang artinya : “Sucikanlah dirimu, sebab Islam itu suci dan “Pedang kaum muslimin adalah kesucian”.
C.     Pengertian Taharah
Taharah (dari taharah-tahura) dari segi etimologi suci atau bersih dari kotoran, baik indrawi seperti air seni (kencing) maupun maknawi seperti aib dan maksiat.(EHI: 1997). Dalam arti terminologi bisa dirumuskan secara sederhana membersihkan diri dari hadas (hadas) dengan wudu’(wudu), mandi, atau tayamum, serta membersihkan najis yang melekat pada diri atau badan, pakaian, perkakas, dan lain- lain dengan air atau penggantinya (pengertian menurut ahli fikih) dikenal dengan taharah lahiriah.
Ada juga yang menjelaskan, khususnya ahli tasawuf bahwa taharah adalah membersihkan hati dan diri dari dosa – dosa dan perilaku keji atau tak terpuji dengan taharah batiniah. Buku yang ada di hadapan kita ini membahas mengenai taharah dalam pengertian yang pertama tersebut.
Dalam disiplin ilmu fikih manifestasi atau hasil dari aktifitas atau amalan-amalan tentang taharah berbentuk atau berupa Wudu, Mandi yang wajib (mandi besar), Tayamum (sebagai pengganti wudu dan mandi wajib), Mencuci/membersihkan najis. Meskipun amalan-amalan ini mungkin saja orang-orang menyebutnya sebagai amalan dhohir atau lahir, tetapi tidak bisa di pungkiri juga, bahwa dari taharah inilah sebagai salah satu elemen penting yang dapat mempengaruhi hampir segala segi atau aspek kehidupan ini.
D. Pemahaman Islam Tentang Menjaga Kesehatan
Dalam kedokteran islam, kesehatan adalah keadaan seseorang secara alamiah atau normal yang dalam keadaan itu Tuhan menciptakan manusia (Fitrah). Penekanan besar yang diberikan pada pencegahan penyakit adalah konsekuensi langsung dari ajaran syariat islam. ”Ightanim khomsan qabla khomsin;….sihataka qabla saqamika…”Kita harus menjaga dan  menghargai ksehatan diri, yang merupakan Pemberian Tuhan sebelum ditimpa pnyakit. Tanggapan demikian melibatkan semua aspek eksistensi, spiritual, psikologis dan fisik seseorang.
Penyakit dipandang sebagai fenomena multidimensi yang tidak boleh direduksi menjadi aspek kedokteran/pengobatan semata. Ada Hadits yang menyatakan bahwa: sehat menjadi penghubung antara kamu dengan Tuhanmu. Dan banyak lagi yang menekankan nilai positif sakit, dan mengemukakan signifikansi spiritual dan sosialnya.
Thaharah sangat bertepatan dengan prinsip-prinsip hygiene, shalat menggambarkan gerakan kehidupan fisiologis, sementara dzikir merupakan wujud eksistensi ruhiyah manusia berhubungan dengan tuhanya. Pelaksanaan syariat-syariat tersebut erat kaitanya dengan terpeliharanya kesehatan manusia secara pribadi maupun social. Telah diketahui bahwa 80-90% penyakit yang menimpa adalah akibat kebiasaan hidup yang salah, ketidak seimbangan gerak-istirahat, salah makan-minum, perubahan lingkungan karena ulah manusia., dan hilangnya ketnangan batin dan kekacauan emosional.
1. Wudlu, Anatomi Tubuh Dan Konsep Hygiene
Prinsip thaharah adalah mengangkat najis dan hadats  bsar maupun kecil, sebagai syarat sahnya peribadatan yang berkaitan denganya. Dalam kesempatan ini akan dibahas pandangan kedokteran terhadap ritual wudlu. Wudlu adalah perbuatan thaharah dengan cara mencuci bagian-bagian tubuh tertentu (anggota wudlu) sesuai syariat islam (syariat dan rukun).
Kita dapat memahami bahwa anggota wudlu yang dibasuh adalah bagian-bagian tubuh yang biasanya terpapar pada dunia luar. Bagian-bagian tersebut umumnya tidak tertutup pakaian, bahkan memang menjadi alat kontak tubuh kita dengan lingkungan, sehingga paling banyak mengalami kontaminasi (kotoran) dan oleh karena inilah yang secara logis paling perlu dibasuh. Inilah aspek hygiene memandang terhadap ritual wudlu.
Secara anatomis anggta wudlu terletak pada ujung-ujung tubuh (kepala,tangan,kaki). Bagian-bagian tersebut paling banyak mengandung susunan tulang dan sendi, dan banyak pula melakukan gerakan-gerakan. Dalam kaitanya dengan ritual wudlu, dimana pembasuhan anggota wudlu kebanyakan 3 kali, ada yang 1 kali, maka timbul suatu pertanyaan: “ adakah rahasia matematis hubungan ritual wudlu dengan susunan tulang dan sendi?”. Jumlah tulang manusia dewasa ada 206 ruas. Akan tetapi secara embriologis pusat penulangan semasa kehidupan janin dalam kandungan itu ada 350-an pusat penulangan, yang kemudian banyak pusat-pusat penulangan yang menyatu, membentuk satu tulang dewasa. Bilangan pusat penulangan ini dekat dengan bilangan hari dalam 1 tahun.
Sampai saat ini masih dalam kajian, akan adanya rahasia matematis tersebut. Ada 2 premis (dari Hadits) :
1. Apabila kamu ditimpa demam 1 hari, kemudian kamu bersabar, kamu akan mendapat pahala seperti ibadah 1 tahun
2. Tiap-tiap ruas tulang anak adam itu sedekahnya setiap hari.
Dari 2 premis tersebut dapat dihubungkan , bahwa tubuh ini mengandung tulang sejumlah bilangan hari dalam setahuan. Tulang-tulang penyusun anggota wudlu jumlahnya tertentu, dikalikan masing-masing dengan jumlah kali pembasuhan pada ritual wudlu, akan ketemu jumlah sama dengan bilangan kseluruhan jumlah tulang manusia. Dengan demikian, membasuh anggota wudlu pada ritualwudlu ini seakan-akan sudah membasuh seluruh tubuh.
Apabila kajian ini tuntas/benar maka ini akan menjadi bukti ilmiah kemu’jizatan syariat islam. Kita ketahui bahwa mahluk Tuhan yang memiliki susunan tulang itu banyak jenis atau spesiesnya, tetapi dalam jumlah hal tulang tidak ada yang sama dengan manusia. Demikian juga ritual wudlu (bersuci) dimiliki olh semua/kepercayaan, akan tetapi islam secara mendetail menjelaskan keunikan sekaligus kemu’jizatan yang tidak ada pada syariat lain.
2.   Shalat, Fisiologis Gerakan Tubuh dan Pengaturan Waktu
            Ilmu Kedokteran Timur (China) mempunyai teori meridian tubuh yang merupakan jala-jala penghubung titik-titik pusat energi vital tubuh (baca : titik akupunktur) di permukaan tubuh kita. Tiap meridian memiliki titik-titik penting yang terkumpul pada ujung-ujung tubuh yang berkesesuainan dengan anggota wudlu kita. Seperti halnya anatomis, menurut teori inipun, membasuh (mengusap, menekan, menstimulasi) titik-titik penting dianggota sudah sama dengan menstimulasi seluruh meredian yang ada.
Para ahli Akupunktur menciptakan gerakan (senam) yang disebut ” Wutang Tai Chi Sword” yakni seni bermain pedang dengan gerakan-gerakan yang diyakini dapat menstimuasi titik-titik vital tubuh kita. Dengan gerakan itu orang akan terjaga kesehatanya dan kebugaranya. Gerakan-gerakan dalam ritual shalat jelas mengenai anggota tubuh yang merupakan titik-titik vital sebagaimana senam pedang tersebut. Shalat yang 5 waktu, dengan wudlunya, tentu akan menjaga kesehatan dan kebugaran seorang muslim sepanjangwaktu.
Masih tentang ilmu akupunktur, dimana dikenal ” ear acupuncture”, telinga diumpamakan sebagai gambaran posisi manusia masih janin dalam kandungan. Bagian-bagian telinga dapat mewakili bagian-bagan tubuh yang berkesuaian. Lobus telinga (tempat anting/subang) sebagai kepala, tepi belakang telinga sebagai punggung, jadi posisinya menungging. Melakukan stimulasi bagian telinga, sama dengan menstimulasi bagian yang bersesuaian. Hal inipun dilakukan pada saat sujud dalam ritual shalat. Sujud, dengan tatacara yang mendetail menurut islam adalah gerakan paling unik dari shalat, yang tidak didapati pada ritual penyembahan pada agama lain.
Dalam hal shalat sebagai pengatur waktu, maka tidak diragukan lagi bahwa tubuh kita itu memiliki jam biologis (biological clock) dan menjalani irama harian tertentu (rhythm circadian). Sholat mengatur waktu dengan seksama sehingga manusia yang menjaga shalatnya akan terjaga irama biologisnya. Dalam hal ini akupunktur dikenal siklus Horarius, dimana organ-organ tubuh ini memiliki fungsi optimal ” menjaga” kesetimbangan aliran energi vital menurut waktu-waktu tertentu dalam 24 jam.
E. Fiqh Thaharah
Thaharah atau bersuci menduduki masalah penting dalam Islam. Boleh dikatakan bahwa tanpa adanya thaharah, ibadah kita kepada Allah SWT tidak akan diterima. Sebab beberapa ibadah utama mensyaratkan thaharah secara mutlak. Tanpa thaharah, ibadah tidak sah. Bila ibadah tidak sah, maka tidak akan diterima Allah. Kalau tidak diterima Allah, maka konsekuensinya adalah kesia-siaan.
Kita bisa membagi thaharah secara umum menjadi dua macam pembagian yang besar.
1. Thaharah Hakiki
Thaharah secara hakiki maksudnya adalah hal-hal yang terkait dengan kebersihan badan, pakain dan tempat shalat dari najis. Boleh dikatakan bahwa thaharah secara hakiki adalah terbebasnya seseorang dari najis. Seorang yang shalat dengan memakai pakaian yang ada noda darah atau air kencing, tidak sah shalatnya. Karena dia tidak terbebas dari ketidaksucian secara hakiki.
Thaharah secara hakiki bisa didapat dengan menghilangkan najis yang menempel, baik pada badan, pakaian atau tempat untuk melakukan ibadah ritual. Caranya bermacam-macam tergantung level kenajisannya. Bila najis itu ringan, cukup dengan memercikkan air saja, maka najis itu dianggap telah lenyap. Bila najis itu berat, harus dicuci dengan air 7 kali dan salah satunya dengan tanah. Bila najis itu pertengahan, disucikan dengan cara mencucinya dengan air biasa, hingga hilang warna najisnya. Dan juga hilang bau najisnya. Dan juga hilang rasa najisnya.
2. Thaharah Hukmi
Sedangkan thaharah secara hukmi maksudnya adalah sucinya kita dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar (kondisi janabah). Thaharah secara hukmi tidak terlihat kotornya secara pisik. Bahkan boleh jadi secara pisik tidak ada kotoran pada diri kita. Namun tidak adanya kotoran yang menempel pada diri kita, belum tentu dipandang bersih secara hukum. Bersih secara hukum adalah kesucian secara ritual.
Seorang yang tertidur batal wudhu'-nya, boleh jadi secara pisik tidak ada kotoran yang menimpanya. Namun dia wajib berthaharah ulang dengan cara berwudhu' bila ingin melakukan ibadah ritual tertentu seperti shalat, thawaf dan lainnya. Demikian pula dengan orang yang keluar mani. Meski dia telah mencuci maninya dengan bersih, lalu mengganti bajunya dengan yang baru, dia tetap belum dikatakan suci dari hadats besar hingga selesai dari mandi janabah.Jadi secara thaharah secara hukmi adalah kesucian secara ritual, dimana secara pisik memang tidak ada kotoran yang menempel, namun seolah-olah dirinya tidak suci untuk melakukan ritual ibadah. Thaharah secara hukmi dilakukan dengan berwudhu' atau mandi janabah.
F. Urgensi Kebersihan dan Perhatian Islam
Perhatian Islam atas dua jenis kesucian itu hakiki dan maknawi merupakan bukti otentik tentang konsistensi Islam atas kesucian dan kebersihan. Dan bahwa Islam adalah peri hidup yang paling unggul dalam urusan keindahan dan kebersihan. Termasuk juga bentuk perhatian serius atas masalah kesehatan baik yang bersifat umum atau khusus. Serta pembentukan pisik dengan bentuk yang terbaik dan penampilan yang terindah. Perhatian ini juga merupakan isyarat kepada masyarakat untuk mencegah tersebarnya penyakit, kemalasan dan keengganan.
Sebab wudhu' dan mandi itu secara pisik terbukti bisa menyegarkan tubuh, mengembalikan fitalitas dan membersihkan diri dari segala macam kuman penyakit yang setiap sat bisa menyerang kondisi tubuh. Secara ilmu kedokteran modern terbukti bahwa upaya yang paling efektif untuk mencegah terjadinya wabah penyakit adalah dengan menjaga kebersihan. Dan seperti yang sudah sering disebutkan bahwa mencegah itu jauh lebih baik dari mengobati. Allah SWT telah memuji orang-orang yang selalu menjaga kesucian di dalam Al-quran Al-Kariem.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat dan orang-orang yang membersihan diri. (QS. Al-Baqarah : 222).
Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri Dan Allah menyukai orang yang membersihkan diri(QS. An-Taubah : 108)
Sosok pribadi muslim sejati adalah orang yang bisa menjadi teladan dan idola dalam arti yang positif di tengah manusia dalam hal kesucian dan kebersihan. Baik kesucian zahir maupun maupun batin. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada jamaah dari shahabatnya :
Kalian akan mendatangi saudaramu, maka perbaguslah kedatanganmu dan perbaguslah penampilanmu. Sehingga sosokmu bisa seperti tahi lalat di tengah manusia (menjadi pemanis). Sesungguhnya Allah tidak menyukai hal yang kotor dan keji(HR. Ahmad)
Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa urusan kesucian itu sangat terkait dengan nilai dan derajat keimanan seseorang. Bila urusan kesucian ini bagus, maka imannya pun bagus. Dan sebaliknya, bila masalah kesucian ini tidak diperhatikan, maka kulitas imannya sangat dipertaruhkan.
الطهور شطر الإيمان
Kesucian itu bagian dari Iman (HR. Muslim)
Selain menjadi bagian utuh dari keimanan seseorang, masalah kesucian ini pun terkait erat dengan syah tidaknya ibadah seseorang. Tanpa adanya kesucian, maka seberapa bagus dan banyaknya ibadah seseorang akan menjadi ritual tanpa makna. Sebab tidak didasari dengan kesucian baik hakiki maupun maknawi.
Rasulullah SAW bersabda :
Dari Ali bin Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Kunci shalat itu adalah kesucian, yang mengharamkannya adalah takbir dan menghalalkannya adalah salam`.(HR. Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah dan hadits ini statusnya adalah hasan shahih).
G. PENUTUP
1.   Kesimpulan
            Kesadaran beragama seseorang dalam berislam pada dasarnya adalah kesadaran akan keesaan Tuhan. Firman Allah SWT. “Fa’lam annahu laa ilaahaillallah” (QS.Muhammad: 9) sebagai sebuah tradisi religius yang utuh, islam tidak hanya membahas apa yang wajib dan yang dilarang untuk dilakukan, tetapi juga membahas apa yang perlu diketahuinya. Dengan kata lain, islam adalah sebuah cara berbuat dan melakukan sesuatu sekaligus sebuah cara untuk mengetahui. Aspek mengetahui adalah aspek yang lebih penting, karena secara esensial islam adalah agama pengetahuan.
            Thaharah, Shalat dan dzikir merupakan ibadah yang esensial bagi muslim tanpa kecuali. Ibadah ini tidak pernah gugur kewajibanya oleh sebab apapun, sementara ibadah lainya (puasa, zakat dan haji) dapat gugur kewajibanya karena syarat istiho’ah (kemampuan). Oleh karenanya, wajib bagi setiap kita untuk mengetahui syariatnya secara global maupun detailnya. Selanjutnya wajib bagi kita untuk melaksanakan sesuai dengan ilmu yang kita ketahui tentang terhadap kesempurnaan islam seerti firman Allah SWT “ al-yauma akmaltu lakum dienukum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa rodliitu lakum al-islama dienna”.(QS.AlMaidah:3)

2.    Saran
            Tak ada gading yang tak retak, seperti inilah cerminan makalah kami. Karena usaha kami dalam menyusun makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, maka dari itu, kami memohon saran dan kritik membangun agar pada penyusunan makalah yang selanjutnya kami dapat membenahi kesalahan pada makalah kami yang selanjutnya