A.
Pendahuluan
Kebersihan atau kesucian adalah
salah satu kewajiban yang diperintahkan oleh agama islam dikenal dengan sebutan
taharah.Taharah adalah menjauhi segala yang kotor dan cemar dan
mendekati kebersihan dan kesucian dalam segala lapangan. Kebersihan tubuh
adalah suatu syarat mutlak untuk memperoleh kesucian batin. Dalam ajaran islam
soal kebersihan atau kesucian termasuk bagian ilmu dan amalan yang sangat
penting terutama karena di antara ibadah ada yang mensyaratkannnya harus suci.
Misalnya salat harus suci dari hadas dan suci dari najis.
Taharah bukan saja
“kebersihan dan kesucian” yang perlu untuk perbuatan mengahadap Tuhan, tetapi juga
“pekerja’an membersihkan dan mensucikan” itu, adalah salah satu dari ibadah yang lima.
Sedangkan ibadahyang empat lagi ialah salat, zakat, puasa dan haji.
Menurut pembagian yang lazim dalam
kitab-kitab fikih,baik fikih klasik maupun fikih kontemporer selalu di mulai
dengan bab ibadah yang lima itu dan senantiasa bab taharah itulah yang
pertama di antara yang lima itu.
B.
Dasar HukumTaharah
Begitu pentingnya taharah
(diindonesiakan menjadi taharah) kaitannya dengan ibadah, maka sebelum
membicarakan taharah lebih jauh perlu mengetahui dasar atau landasan
hukum taharah itu sendiri.
Para fuqaha’ (ahli fikih)
tidak ada perbedaan pendapat bahwa taharah telah disyari’atkan dalam Islam.
(EHI: 1996). Pendapat itu di dasarkan atau mengacu pada al-Quran dan as-Sunnah.
Melalui al-Quran bisa dilihat dalam surat:
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْتَّوَابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyukai orang orang
yang taubat dan menyukai orang – orang yang mensucikan diri” (Q.S. Al
Baqarah Ayat 222)
·
Surah Al – Mudassir ayat 4 :
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
Artinya : “Dan pakaianmu bersihkanlah”
· At –
Taubah ayat 108 :
وَاللهُ يُحِبُّ
الْمُتَطَهْرِينَ
Artinya : “Dan Allah menyukai orang – orang yang bersih”.
·
Lalu dijelaskan oleh Hadits Rasulullah
اَلطَّهُوْرُ سَطْرُ الاِيْمَانِ
Artinya : “Kebersihan itu setengah Iman.
Disamping hadits diatas ada hadits lain yang artinya : “Sucikanlah
dirimu, sebab Islam itu suci dan “Pedang kaum muslimin adalah kesucian”.
C.
Pengertian Taharah
Taharah (dari taharah-tahura) dari segi etimologi suci atau bersih dari
kotoran, baik indrawi seperti air seni (kencing) maupun maknawi seperti aib dan
maksiat.(EHI: 1997). Dalam arti terminologi bisa dirumuskan secara sederhana
membersihkan diri dari hadas (hadas) dengan wudu’(wudu), mandi,
atau tayamum, serta membersihkan najis yang melekat pada diri atau badan,
pakaian, perkakas, dan lain- lain dengan air atau penggantinya (pengertian
menurut ahli fikih) dikenal dengan taharah lahiriah.
Ada juga yang menjelaskan, khususnya ahli
tasawuf bahwa taharah adalah membersihkan hati dan diri dari dosa – dosa
dan perilaku keji atau tak terpuji dengan taharah batiniah. Buku yang
ada di hadapan kita ini membahas mengenai taharah dalam pengertian yang
pertama tersebut.
Dalam disiplin ilmu fikih manifestasi atau
hasil dari aktifitas atau amalan-amalan tentang taharah berbentuk atau
berupa Wudu, Mandi yang wajib (mandi besar), Tayamum (sebagai pengganti wudu
dan mandi wajib), Mencuci/membersihkan najis. Meskipun amalan-amalan ini
mungkin saja orang-orang menyebutnya sebagai amalan dhohir atau lahir, tetapi
tidak bisa di pungkiri juga, bahwa dari taharah inilah sebagai salah
satu elemen penting yang dapat mempengaruhi hampir segala segi atau aspek
kehidupan ini.
D. Pemahaman Islam
Tentang Menjaga Kesehatan
Dalam kedokteran islam, kesehatan
adalah keadaan seseorang secara alamiah atau normal yang dalam keadaan itu
Tuhan menciptakan manusia (Fitrah). Penekanan besar yang diberikan pada
pencegahan penyakit adalah konsekuensi langsung dari ajaran syariat
islam. ”Ightanim khomsan qabla khomsin;….sihataka qabla saqamika…”Kita
harus menjaga dan menghargai ksehatan diri, yang merupakan Pemberian
Tuhan sebelum ditimpa pnyakit. Tanggapan demikian melibatkan semua aspek eksistensi,
spiritual, psikologis dan fisik seseorang.
Penyakit dipandang sebagai fenomena
multidimensi yang tidak boleh direduksi menjadi aspek kedokteran/pengobatan
semata. Ada Hadits yang menyatakan bahwa: sehat menjadi penghubung antara kamu
dengan Tuhanmu. Dan banyak lagi yang menekankan nilai positif sakit, dan
mengemukakan signifikansi spiritual dan sosialnya.
Thaharah sangat bertepatan dengan
prinsip-prinsip hygiene, shalat menggambarkan gerakan kehidupan fisiologis,
sementara dzikir merupakan wujud eksistensi ruhiyah manusia berhubungan dengan
tuhanya. Pelaksanaan syariat-syariat tersebut erat kaitanya dengan
terpeliharanya kesehatan manusia secara pribadi maupun social. Telah diketahui
bahwa 80-90% penyakit yang menimpa adalah akibat kebiasaan hidup yang salah,
ketidak seimbangan gerak-istirahat, salah makan-minum, perubahan lingkungan
karena ulah manusia., dan hilangnya ketnangan batin dan kekacauan emosional.
1. Wudlu,
Anatomi Tubuh Dan Konsep Hygiene
Prinsip thaharah adalah mengangkat
najis dan hadats bsar maupun kecil, sebagai syarat sahnya peribadatan
yang berkaitan denganya. Dalam kesempatan ini akan dibahas pandangan kedokteran
terhadap ritual wudlu. Wudlu adalah perbuatan thaharah dengan
cara mencuci bagian-bagian tubuh tertentu (anggota wudlu) sesuai syariat islam
(syariat dan rukun).
Kita dapat memahami bahwa anggota
wudlu yang dibasuh adalah bagian-bagian tubuh yang biasanya terpapar pada dunia
luar. Bagian-bagian tersebut umumnya tidak tertutup pakaian, bahkan memang
menjadi alat kontak tubuh kita dengan lingkungan, sehingga paling banyak
mengalami kontaminasi (kotoran) dan oleh karena inilah yang secara logis paling
perlu dibasuh. Inilah aspek hygiene memandang terhadap ritual wudlu.
Secara anatomis anggta wudlu terletak
pada ujung-ujung tubuh (kepala,tangan,kaki). Bagian-bagian tersebut paling
banyak mengandung susunan tulang dan sendi, dan banyak pula melakukan
gerakan-gerakan. Dalam kaitanya dengan ritual wudlu, dimana pembasuhan anggota
wudlu kebanyakan 3 kali, ada yang 1 kali, maka timbul suatu pertanyaan: “
adakah rahasia matematis hubungan ritual wudlu dengan susunan tulang dan
sendi?”. Jumlah tulang manusia dewasa ada 206 ruas. Akan tetapi secara
embriologis pusat penulangan semasa kehidupan janin dalam kandungan itu ada
350-an pusat penulangan, yang kemudian banyak pusat-pusat penulangan yang
menyatu, membentuk satu tulang dewasa. Bilangan pusat penulangan ini dekat
dengan bilangan hari dalam 1 tahun.
Sampai saat ini masih dalam kajian,
akan adanya rahasia matematis tersebut. Ada 2 premis (dari Hadits) :
1. Apabila kamu ditimpa demam 1 hari, kemudian kamu bersabar,
kamu akan mendapat pahala seperti ibadah 1 tahun
2. Tiap-tiap ruas tulang anak adam itu sedekahnya setiap
hari.
Dari 2 premis tersebut dapat dihubungkan , bahwa tubuh ini
mengandung tulang sejumlah bilangan hari dalam setahuan. Tulang-tulang penyusun
anggota wudlu jumlahnya tertentu, dikalikan masing-masing dengan jumlah kali
pembasuhan pada ritual wudlu, akan ketemu jumlah sama dengan bilangan
kseluruhan jumlah tulang manusia. Dengan demikian, membasuh anggota wudlu pada
ritualwudlu ini seakan-akan sudah membasuh seluruh tubuh.
Apabila kajian ini tuntas/benar maka ini akan menjadi bukti
ilmiah kemu’jizatan syariat islam. Kita ketahui bahwa mahluk Tuhan yang
memiliki susunan tulang itu banyak jenis atau spesiesnya, tetapi dalam jumlah
hal tulang tidak ada yang sama dengan manusia. Demikian juga ritual wudlu
(bersuci) dimiliki olh semua/kepercayaan, akan tetapi islam secara mendetail
menjelaskan keunikan sekaligus kemu’jizatan yang tidak ada pada syariat lain.
2. Shalat, Fisiologis Gerakan Tubuh dan
Pengaturan Waktu
Ilmu Kedokteran Timur (China)
mempunyai teori meridian tubuh yang merupakan jala-jala penghubung titik-titik
pusat energi vital tubuh (baca : titik akupunktur) di permukaan tubuh kita.
Tiap meridian memiliki titik-titik penting yang terkumpul pada ujung-ujung
tubuh yang berkesesuainan dengan anggota wudlu kita. Seperti halnya anatomis,
menurut teori inipun, membasuh (mengusap, menekan, menstimulasi) titik-titik
penting dianggota sudah sama dengan menstimulasi seluruh meredian yang ada.
Para ahli Akupunktur menciptakan
gerakan (senam) yang disebut ” Wutang Tai Chi Sword” yakni seni bermain pedang
dengan gerakan-gerakan yang diyakini dapat menstimuasi titik-titik vital tubuh
kita. Dengan gerakan itu orang akan terjaga kesehatanya dan kebugaranya.
Gerakan-gerakan dalam ritual shalat jelas mengenai anggota tubuh yang merupakan
titik-titik vital sebagaimana senam pedang tersebut. Shalat yang 5 waktu,
dengan wudlunya, tentu akan menjaga kesehatan dan kebugaran seorang muslim
sepanjangwaktu.
Masih tentang ilmu akupunktur, dimana
dikenal ” ear acupuncture”, telinga diumpamakan sebagai gambaran posisi manusia
masih janin dalam kandungan. Bagian-bagian telinga dapat mewakili bagian-bagan
tubuh yang berkesuaian. Lobus telinga (tempat anting/subang) sebagai kepala,
tepi belakang telinga sebagai punggung, jadi posisinya menungging. Melakukan
stimulasi bagian telinga, sama dengan menstimulasi bagian yang bersesuaian. Hal
inipun dilakukan pada saat sujud dalam ritual shalat. Sujud, dengan tatacara
yang mendetail menurut islam adalah gerakan paling unik dari shalat, yang tidak
didapati pada ritual penyembahan pada agama lain.
Dalam hal shalat sebagai pengatur
waktu, maka tidak diragukan lagi bahwa tubuh kita itu memiliki jam biologis
(biological clock) dan menjalani irama harian tertentu (rhythm circadian).
Sholat mengatur waktu dengan seksama sehingga manusia yang menjaga shalatnya
akan terjaga irama biologisnya. Dalam hal ini akupunktur dikenal siklus
Horarius, dimana organ-organ tubuh ini memiliki fungsi optimal ” menjaga”
kesetimbangan aliran energi vital menurut waktu-waktu tertentu dalam 24 jam.
E. Fiqh
Thaharah
Thaharah atau bersuci menduduki masalah
penting dalam Islam. Boleh dikatakan bahwa tanpa adanya thaharah, ibadah kita
kepada Allah SWT tidak akan diterima. Sebab beberapa ibadah utama mensyaratkan
thaharah secara mutlak. Tanpa thaharah, ibadah tidak sah. Bila ibadah tidak
sah, maka tidak akan diterima Allah. Kalau tidak diterima Allah, maka
konsekuensinya adalah kesia-siaan.
Kita bisa
membagi thaharah secara umum menjadi dua macam pembagian yang besar.
1.
Thaharah Hakiki
Thaharah secara hakiki maksudnya
adalah hal-hal yang terkait dengan kebersihan badan, pakain dan tempat shalat
dari najis. Boleh dikatakan bahwa thaharah secara hakiki adalah terbebasnya
seseorang dari najis. Seorang yang shalat dengan memakai pakaian yang ada noda
darah atau air kencing, tidak sah shalatnya. Karena dia tidak terbebas dari
ketidaksucian secara hakiki.
Thaharah secara hakiki bisa didapat
dengan menghilangkan najis yang menempel, baik pada badan, pakaian atau tempat
untuk melakukan ibadah ritual. Caranya bermacam-macam tergantung level
kenajisannya. Bila najis itu ringan, cukup dengan memercikkan air saja, maka
najis itu dianggap telah lenyap. Bila najis itu berat, harus dicuci dengan air
7 kali dan salah satunya dengan tanah. Bila najis itu pertengahan, disucikan
dengan cara mencucinya dengan air biasa, hingga hilang warna najisnya. Dan juga
hilang bau najisnya. Dan juga hilang rasa najisnya.
2.
Thaharah Hukmi
Sedangkan thaharah secara hukmi maksudnya
adalah sucinya kita dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar
(kondisi janabah). Thaharah secara hukmi tidak terlihat kotornya
secara pisik. Bahkan boleh jadi secara pisik tidak ada kotoran pada diri
kita. Namun tidak adanya kotoran yang menempel pada diri kita,
belum tentu dipandang bersih secara hukum. Bersih secara hukum adalah kesucian
secara ritual.
Seorang yang
tertidur batal wudhu'-nya, boleh jadi secara pisik tidak ada kotoran yang
menimpanya. Namun dia wajib berthaharah ulang dengan cara berwudhu' bila ingin
melakukan ibadah ritual tertentu seperti shalat, thawaf dan lainnya. Demikian
pula dengan orang yang keluar mani. Meski dia telah mencuci maninya dengan
bersih, lalu mengganti bajunya dengan yang baru, dia tetap belum dikatakan suci
dari hadats besar hingga selesai dari mandi janabah.Jadi secara thaharah secara
hukmi adalah kesucian secara ritual, dimana secara pisik memang tidak ada
kotoran yang menempel, namun seolah-olah dirinya tidak suci untuk melakukan
ritual ibadah. Thaharah secara hukmi dilakukan dengan berwudhu' atau mandi
janabah.
F. Urgensi Kebersihan dan Perhatian Islam
Perhatian Islam
atas dua jenis kesucian itu hakiki dan maknawi merupakan
bukti otentik tentang konsistensi Islam atas kesucian dan kebersihan. Dan bahwa
Islam adalah peri hidup yang paling unggul dalam urusan keindahan dan
kebersihan. Termasuk juga bentuk perhatian serius atas masalah
kesehatan baik yang bersifat umum atau khusus. Serta pembentukan pisik dengan
bentuk yang terbaik dan penampilan yang terindah. Perhatian ini juga merupakan
isyarat kepada masyarakat untuk mencegah tersebarnya penyakit, kemalasan dan
keengganan.
Sebab wudhu' dan
mandi itu secara pisik terbukti bisa menyegarkan tubuh, mengembalikan fitalitas
dan membersihkan diri dari segala macam kuman penyakit yang setiap sat bisa
menyerang kondisi tubuh. Secara ilmu kedokteran modern terbukti bahwa upaya
yang paling efektif untuk mencegah terjadinya wabah penyakit adalah dengan
menjaga kebersihan. Dan seperti yang sudah sering disebutkan bahwa mencegah itu
jauh lebih baik dari mengobati. Allah SWT telah memuji orang-orang yang selalu menjaga
kesucian di dalam Al-quran Al-Kariem.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat dan
orang-orang yang membersihan diri. (QS. Al-Baqarah
: 222).
Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri
Dan Allah menyukai orang yang membersihkan diri. (QS.
An-Taubah : 108)
Sosok pribadi
muslim sejati adalah orang yang bisa menjadi teladan dan idola dalam arti yang
positif di tengah manusia dalam hal kesucian dan kebersihan. Baik kesucian
zahir maupun maupun batin. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada jamaah dari
shahabatnya :
Kalian akan mendatangi
saudaramu, maka perbaguslah kedatanganmu dan perbaguslah penampilanmu. Sehingga
sosokmu bisa seperti tahi lalat di tengah manusia (menjadi pemanis).
Sesungguhnya Allah tidak menyukai hal yang kotor dan keji. (HR.
Ahmad)
Rasulullah SAW
telah menyatakan bahwa urusan kesucian itu sangat terkait dengan nilai dan
derajat keimanan seseorang. Bila urusan kesucian ini bagus, maka imannya pun
bagus. Dan sebaliknya, bila masalah kesucian ini tidak diperhatikan, maka
kulitas imannya sangat dipertaruhkan.
الطهور شطر الإيمان
Kesucian itu bagian dari Iman (HR.
Muslim)
Selain menjadi
bagian utuh dari keimanan seseorang, masalah kesucian ini pun terkait erat
dengan syah tidaknya ibadah seseorang. Tanpa adanya kesucian, maka seberapa
bagus dan banyaknya ibadah seseorang akan menjadi ritual tanpa makna. Sebab
tidak didasari dengan kesucian baik hakiki maupun maknawi.
Rasulullah SAW bersabda :
Dari Ali bin
Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Kunci shalat itu adalah kesucian, yang
mengharamkannya adalah takbir dan menghalalkannya adalah salam`.(HR. Abu
Daud, Tirmizi, Ibnu Majah dan hadits ini statusnya adalah hasan shahih).
G. PENUTUP
1. Kesimpulan
Kesadaran
beragama seseorang dalam berislam pada dasarnya adalah kesadaran akan keesaan
Tuhan. Firman Allah SWT. “Fa’lam annahu laa ilaahaillallah” (QS.Muhammad:
9) sebagai sebuah tradisi religius yang utuh, islam tidak hanya membahas apa
yang wajib dan yang dilarang untuk dilakukan, tetapi juga membahas apa yang
perlu diketahuinya. Dengan kata lain, islam adalah sebuah cara berbuat dan
melakukan sesuatu sekaligus sebuah cara untuk mengetahui. Aspek mengetahui
adalah aspek yang lebih penting, karena secara esensial islam adalah agama
pengetahuan.
Thaharah,
Shalat dan dzikir merupakan ibadah yang esensial bagi muslim tanpa kecuali.
Ibadah ini tidak pernah gugur kewajibanya oleh sebab apapun, sementara ibadah
lainya (puasa, zakat dan haji) dapat gugur kewajibanya karena syarat istiho’ah
(kemampuan). Oleh karenanya, wajib bagi setiap kita untuk mengetahui syariatnya
secara global maupun detailnya. Selanjutnya wajib bagi kita untuk melaksanakan
sesuai dengan ilmu yang kita ketahui tentang terhadap kesempurnaan islam seerti
firman Allah SWT “ al-yauma akmaltu lakum dienukum wa atmamtu ‘alaikum
ni’matii wa rodliitu lakum al-islama dienna”.(QS.AlMaidah:3)
2. Saran
Tak ada
gading yang tak retak, seperti inilah cerminan makalah kami. Karena usaha kami
dalam menyusun makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, maka dari
itu, kami memohon saran dan kritik membangun agar pada penyusunan makalah yang
selanjutnya kami dapat membenahi kesalahan pada makalah kami yang selanjutnya